Strategi Coping dalam Konsep Psikologi dan Religiusitas

Gambar

          Dalam perkembangan zaman yang semakin modern ini, stress dianggap sebagai suatu hal yang biasa ditemukan dalam menghadapi kehidupan di dunia, karena dalam sehari-hari mereka menemui berbagai kondisi lingkungan yang menyebabkan tekanan jiwa atau penderitaan emosional.

         Pada dasarnya konsep stres sudah ada selama berabad-abad, misalnya pada abad ke-14 istilah “Stres” mulai digunakan secara ilmiah, yang diartikan sebagai penderitaan, kesulitan, kesengsaraan atau kesusahan (Lumsden, 1981). Selanjutnya pakhir abad ke-17, Hooke menggunakan istilah stres dalam konteks ilmu-ilmu fisik, meskipun hanya digunakan sampai awal abad ke-19 (Lazarus dan Folkman, 1984: 2). Pada saat Perang Dunia II dan Perang Korea para peneliti mulai terinspirasi untuk melakukan penelitian mengenai stress, karena signifikan dengan keadaan saat itu, yaitu pertempuran militer.

         Akhirnya sejak tahun 1960, mulai berkembang sebuah penelitian yang mengakui bahwa stres merupakan aspek yang tak terpisahkan dari kondisi manusia yang sedang menghadapi dan membuat perbedaan besar dalam hasil adaptasi. Seperti dalam model teori Lazarus & Folkman (1984 : 139) yang mengemukakan, bahwa seorang individu dikatakan mengalami stres adalah ketika mempunyai hubungan khusus dengan lingkungan yang dinilai sebagai beban, berbahaya, atau melebihi sumber daya yang dimilikinya untuk menyelesaikan suatu masalah. Dalam konsep psikologi sendiri, disebut sebagai “Stres dan Proses Coping (Lazarus, 1966 : 7). Sehingga model dari Lazarus dan Folkman tersebut lebih menekankan pada model yang mendasarkan pada kognitif dan stres.

        Sehingga dapat diketahui bahwa coping terhubung dengan stres, karena keduanya bersama-sama menghadapi berbagai jenis tuntutan lingkungan dan reaksi manusia muncul untuk mengurangi tuntutan dari lingkungan tersebut.

A. Pengertian Coping

          Konsep mengenai coping dalam psikologi sebenarnya sudah ada sejak 40 tahun yang lalu, dimana tema tersebut dijelaskan dalam klinis, namun pada tahun 1940 dan 1950 difokuskan pada program pendidikan dan psikoterapi sebagai tujuan pengembangan keterampilan koping (Lazarus dan Folkman, 1984: 117).

          Pada akhir 1970-an, peneliti termasuk Lazarus, Moos, dan Pearlin mulai mengukur pikiran dan tindakan coping langsung menggunakan laporan penilaian diri. Para peneliti coping yang baru tidak terikat dengan teori dinamis, tapi mereka bersedia untuk mengeksplorasi perilaku dan kognisi yang ada untuk kesadaran individu, bukan hanya fokus pada kesimpulan pada struktur kognitif.

          Akhirnya Lazarus dan Folkman (1984) mengemukakan bahwa coping merupakan constantly changing cognitive and behavioral efforts to manage specific external and/or internal demands that are appraised as taxing or exceeding the resources of the person. Atau dapat diartikan sebagai upaya perubahan kognitif dan perilaku yang berlangsung terus menerus untuk mengatasi tuntutan eksternal dan atau internal yang dinilai sebagai beban atau melampaui sumber daya individu (Lazarus dan Folkman, 1984: 141).

            Seseorang dikatakan melakukan proses coping, jika melibatkan empat tahapan: 1) Terjadinya suatu peristiwa kehidupan; 2) Penilaian primer dan sekunder pada suatu kejadian, yang melibatkan evaluasi makna suatu peristiwa dan efektivitas sumber daya koping, secara berturut-turut; 3) Perilaku koping; 4) hasil akhirnya adalah kesehatan psikologis dan fisik (Lazarus & Folkman, 1984 : 185).

B. Tipe-Tipe Coping

          Pada dasarnya para peneliti telah berusaha untuk mengklasifikasikan berbagai fungsi coping, sebagaimana Mechanic (1974) mengemukakan pendapatnya mengenai fungsi coping, dimana dia memandangnya dari perspektif sosial-psikologis, yaitu berhubungan dengan sosial dan tuntutan lingkungan, menciptakan motivasi untuk memenuhi tuntutan, dan mempertahankan keadaan keseimbangan psikologis untuk mengatur energi dan keterampilan terhadap tuntutan eksternal. Selain itu Janis dan Mann (1977), merumuskan fungsi coping sebagai kerangka pengambilan keputusan. Dalam model mereka, fungsi utama mengatasi harus berhubungan dengan pengambilan keputusan, khususnya mencari dan mengevaluasi informasi (Lazarus dan Folkman, 1984: 149).

        Selain itu penelitian lainnya mencoba mengklasifikasikan fungsi coping, baik di tingkat makro dan mikro analitik. Pada analisis tingkat makro biasanya dibedakan dengan apa yang Lazarus dan rekan (misalnya, Lazarus & Folkman, 1984; Lazarus & Launier, 1978) sebutkan kedalam dua tipe, yaitu:

1) Problem Focused Coping (PFC), mencakup bertindak secara langsung untuk mengatasi masalah atau mencari informasi yang relevan dengan solusi;

2) Emotional Focused Coping (EFC), merujuk pada berbagai upaya untuk mengurangi berbagai reaksi emosional negatif terhadap stres.

            Sedangkan analisis pada tingkat mikro telah mengidentifikasi berbagai subtipe coping, sebagai contoh Stone, Helder, and Schneider (1988) membedakan antara dukungan sosial, mencari informasi, religiusitas, redefinisi situasi, penghindaran, pengurangan ketegangan, dan pemecahan masalah (Carpenter, 1992 : 50). Akan tetapi Lazarus & Folkman mengidentifikasi subtipe tersebut menjadi:

1.  Problem Focused Coping (PFC)

      Terdapat 6 subdimensi dalam Emotional Focused Coping (EFC), diantaranya adalah:

      a)   Distancing, yaitu reaksi melepaskan diri atau usaha melarikan diri dalam

             permasalahan serta menciptakan pandangan yg positif

     b)   Self control, yaitu usaha untuk meregulasi perasaan maupun tindakan.

    c)    Seeking social support, yaitu usaha untuk mencari dukungan dari pihak luar, baik

           berupa informasi, bantuan nyata maupun dukungan emosional.

   d)     Accepting responsibility, yaitu usaha untuk mengetahui peran dirinya dalam

           permasalahan yang dihadapi dan mencoba untuk menempatkan segala sesuatu

          dengan sebagaimana mestinya.

   e)    Escape avoidance, yaitu reaksi berkhayal dan usaha menghindar atau melarikan diri

          dari permasalahan.

  f)   Positive reappraisal, yaitu usaha untuk menciptakan makna yang positif dengan

      memusatkan pada pengembangan personal dan juga melibatkan hal-hal yang bersifat

      religious.

2.  Emotional Focused Coping (EFC)

     Terdapat 2 subdimensi dalam Emotional Focused Coping (EFC), diantaranya adalah:

   a)   Planful problem solving, yaitu usaha memecahkan masalah dengan tenang dan

         hati-hati disertai dengan pendekatan analisis.

  b)   Confrontative coping, yaitu usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan

       dengan cara yang agresif, tingkat kemarahan yang cukup tinggi, dan pengambilan

       resiko.

 Gambar           Seperti yang telah diketahui, bahwa seorang individu secara otomatis akan melakukan suatu coping, dimana dengan melakukan coping maka seseorang akan  bereaksi terhadap tekanan yang nantinya berfungsi untuk memecahkan, mengurangi dan menggantikan kondisi yang penuh tekanan berupa kekhawatiran atau tekanan emosional lainnya.

          Pada saat seseorang melakukan sebuah coping, pastinya orang tersebut akan mendapatkan hasil, baik dalam bentuk yang positif  atau negatif dan dalam jangka pendek atau jangka panjang. Dapat dikatakan bahwa hasil akhir yang didapatkan oleh seseorang yang melakukan coping, adalah kesehatan psikologis dan fisik (Lazarus & Folkman, 1984 : 185). Kemudian Carpenter (1992 : 9) juga mengemukakan, bahwa coping dapat bertindak:

      a.    Sebagai penyangga efek dari stres;

      b.    Untuk melawan efek stres dengan langsung mengarah ke

              perbaikan hasil;

     c.   Untuk menghilangkan stres, bahkan mengurangi dampaknya, dalam hal ini termasuk fitur yang terkait seperti penilaian dan sumber daya. Terdapat empat cara yang dapat mempengaruhi sistem mengatasi: 1) meminimalkan respon stres; 2) menghapus atau mengurangi tuntutan; 3) meningkatkan sumber daya; 4) mengubah penilaian.

            Sebuah penelitian dilakukan oleh Schaefer dan Moos, dimana penelitian tersebut lebih menarik perhatian terhadap perubahan positif yang dapat terjadi sebagai keyakinan seseorang dan mengembangkan bentuk-bentuk keterampilan baru (Carpenter, 1992 : 9). Dalam hal ini, hasil dapat berperan  untuk mengatur sistem, mengubah keyakinan yang bertanggung jawab untuk penilaian (appraisal) dan pilihan respon koping.

          Bagi orang-orang yang beriman,  mereka mendapatkan pengaruh baik akibat ketundukan mereka kepada Allah, tawakal mereka kepada-Nya dan kepribadian kokoh mereka, kemampuan melihat kebaikan dalam segala hal, dan ridha dengan apa yang terjadi padanya. Sehingga, orang-orang yang beriman akan berada dalam keadaan sehat secara kejiwaan, serta mereka tidak terkena stres, atau berkecil hati, dan jasmani mereka senantiasa prima dan sehat. Seperti firman Allah SWT dalam surat Al-Fath ayat 4 dan surat At-Taubah ayat 26:

Artinya: “Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi, dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

(Q. S. Al-Fath : 4)

Artinya: “kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang- orang yang kafir, dan Demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (Q. S. At-Taubah : 26)

            Keengganan orang-orang yang jauh dari agama untuk taat kepada Allah menyebabkan mereka terus-menerus menderita perasaan tidak nyaman, khawatir dan stres. Akibatnya, mereka terkena berbagai ragam penyakit kejiwaan yang mewujud pada keadaan raga mereka. Selain itu, tubuh mereka lebih cepat mengalami kerusakan, dan mereka mengalami penuaan yang cepat dan melemah. Kenyataan bahwa mereka yang tidak mengikuti nilai-nilai ajaran agama mengalami “stres”, dinyatakan oleh Allah dalam Al Qur’an surat Taha ayat 124 dan surat At-Taubah ayat 118:

Artinya: “Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta.” (Q. S. Taha : 124)

Artinya: dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, Padahal bumi itu Luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

(Q. S. At-Taubah : 118)

            Adapun keengganan dan ketidakmampuan orang-orang yang tak beriman untuk taat kepada Allah dan menaati nilai-nilai akhlak yang diajarkan agama, adalah suatu kerugian besar yang akan didapatkan oleh manusia. Karena seperti yang dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim al-Jauzi (2009 : 110):

“Ketaatan merupakan benteng terbesar, benteng Allah terangung. Siapa pun yang memasukinya akan aman dari hukuman dunia dan akhirat. Sebaliknya, siapa yang keluar dari benteng tersebut akan diliputi oleh hal-hal yang menakutkan dari segala penjuru.”

            Sehingga jelas, bahwa kepribadian yang tenang dan damai hanya dimungkinkan dengan menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur’an. Selain itu dengan taat kepada Allah, adalah salah satu proses coping yang nantinya akan melindungi dari rasa takut, khawatir, dan kecemasan dalam jiwa yang membuat keadaan stres. Seperti firman Allah SWT dalam surat Al-Isra ayat 82:

  Artinya: “dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Q. S. Al-Isra : 82)

                Dengan taat kepada Allah, maka akan menumbuhkan sikap berprasangka baik kepada Allah SWT yang nantinya senantiasa akan menumbuhkan harapan-harapan dalam menyelesaikan berbagai masalah kehidupan. Secara langsung akan bermanfaat pula bagi siapa saja yang bertobat dan menyesali perbuatannya, kemudian membebaskan diri dari dosa dan menggantinya dengan perbuatan yang baik, serta melakukan kebaikan dengan ketaatan dalam sisa hidupnya.Sehingga Allah menjadikan mereka orang-orang yang mempunyai harapan, bukan orang-orang yang batil atau fasik (al-Jauzi, 2009 : 38), seperti firman-Nya dalam Surah an-Nahl ayat 110:

Artinya: “dan Sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; Sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q. S. an-Nahl : 110)

            Adapun bentuk perilaku koping yang dilakukan saat seseorang mengalami stress, adalah berdoa kepada Allah SWT. karena dengan berdoa, maka manusia akan mencegah, menghilangkan, atau terhindar dari musibah. Seperti firman-Nya dalam Surah Ghafir ayat 60 dan surat Al-Baqarah ayat 186:

Artinya: “dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina”.

(Q. S. Ghafir : 60)

“dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

(Q. S. Al-Baqarah : 186)

Gambar

Referensi:

  • Al-Jauzi, Ibnul Qayyim. 2009. Terapi Penyakit Hati. (Alih Bahasa Salim Bazemool). Jakarta: Qisthi Press.
  • Carpenter, Bruce N. 1992. Personal coping : theory, research, and application. London: Greenwood Publishing Group.
  • Davidson, G. et al. 2006. Psikologi Abnormal. Edisi Sembilan. (Alih Bahasa Noermalasari Fajar). Jakarta: PT. Grafindo Persada.
  • Pinel, John P. J. 2009. Biopsikologi. Edisi Ketujuh. (Alih Bahasa Helly Pratjipto Soetjipto dan Sri Mulyantini Pratjipto). Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR.
  • Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya. PT Syamil Cipta Media: Bandung.
  • Folkman, Susan. 1984. Stress, appraisal, and coping. New York: Springer Publishing Company.
Dipublikasi di psikologi, Uncategorized | Tinggalkan komentar